Pendidikan

Tantangan Kedisiplinan Pendidikan Masa Kini

Nabella O. S. Mustaqorina, M.Pd.

ORDER

Tantangan Kedisiplinan Pendidikan Masa Kini
Oleh Nabella O. S. Mustaqorina, M.Pd.

Dalam dunia pendidikan, disiplin merupakan pilar utama yang menjaga keteraturan dan keberhasilan proses belajar mengajar. Namun, di masa kini peran guru dalam menegakkan disiplin menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Salah satu penyebab utama adalah intervensi orang tua yang berlebihan dalam masalah sekolah. Kini guru sering berada dalam posisi dilematis, antara menegakkan aturan atau menyerah pada tekanan eksternal demi menghindari konflik.

Dulu, peran guru dipandang sebagai figur otoritas yang dihormati. Apa yang dikatakan guru dianggap benar dan orang tua pada umumnya mendukung langkah yang diambil guru dalam mendidik anak. Namun, kini pemandangan tersebut berubah drastis. Tidak jarang kita mendengar kasus di mana guru disalahkan karena memberi hukuman kepada siswa yang melanggar aturan. Orang tua cenderung membela anak mereka tanpa mempertimbangkan konteks atau dampak dari tindakan tersebut. Akibatnya, siswa merasa bahwa mereka selalu dilindungi, bahkan ketika mereka jelas-jelas melakukan kesalahan.

Selain itu, perubahan dalam paradigma pendidikan dan pola asuh turut memengaruhi dinamika ini. Konsep pendidikan yang berorientasi pada student centered learning menekankan pentingnya kenyamanan dan kebebasan siswa dalam belajar. Sementara itu, pola asuh yang terlalu protektif sering menjadikan anak-anak tumbuh dengan mentalitas bahwa mereka harus selalu dimaklumi dan dilindungi. Hal ini dapat mengurangi efektivitas guru dalam menegakkan kedisiplinan di kelas, karena segala tindakan korektif dianggap sebagai ancaman terhadap kenyamanan siswa.

Padahal, disiplin bukanlah bentuk hukuman, melainkan sarana untuk membentuk karakter, tanggung jawab, dan integritas. Tanpa disiplin, proses pembelajaran yang terstruktur dan efektif akan sulit terwujud. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surah An-Nisa’ ayat ke 135, berikut adalah terjemahannya.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini mengingatkan pentingnya menegakkan keadilan dan kebenaran, termasuk dalam konteks mendidik generasi muda. Namun, ketika peran guru sebagai penegak disiplin tergerus, otoritas mereka pun melemah. Guru yang seharusnya menjadi pelaku utama dalam proses pendidikan sering merasa tidak didukung, bahkan rentan terhadap tuduhan yang berlebihan. Hal ini bisa menurunkan semangat dan komitmen mereka dalam mendidik.

Sebagai contoh, seorang siswa yang terlambat datang ke sekolah mungkin diberikan hukuman ringan oleh gurunya. Alih-alih mendukung langkah tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter, orang tua malah melayangkan protes. Mereka beranggapan bahwa hukuman itu tidak manusiawi atau melanggar HAM dan merugikan anak. Dalam situasi ini, siswa akan berpikir bahwa mereka selalu memiliki tameng yang akan membela, meski perbuatannya salah. Di sinilah letak tantangan terbesar, bagaimana guru bisa menegakkan disiplin jika setiap tindakannya diawasi dan dikritik oleh pihak eksternal?
Kasus serupa juga beberapa kali menimpa guru di berbagai daerah di Indonesia, berikut ini beberapa kasus guru yang berurusan dengan polisi akibat dugaan penganiayaan terhadap siswa sepanjang 2024.

  1. Supriyani, guru honorer di Konawe Selatan yang tadinya akan dipenjara akibat dugaan penganiayaan siswa.
  2. Masse, guru SD di Bombana yang dilaporkan akibat salah pukul.
  3. Zaharman, guru SMA di Bengkulu dipolisikan hingga diketapel akibat menegur siswa yang merokok.

Bagi banyak guru, situasi seperti ini menciptakan dilema besar. Di satu sisi, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik siswa dengan benar, termasuk menanamkan nilai-nilai disiplin. Di sisi lain, tekanan dari orang tua dan kadang-kadang dari pihak sekolah sendiri membuat mereka ragu untuk bertindak tegas. Guru akhirnya terjebak dalam kebingungan, apakah mereka harus tetap menjalankan tugas mereka dengan risiko mendapatkan kritik atau memilih untuk diam dan membiarkan pelanggaran terjadi demi menghindari konflik?

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kolaborasi yang baik antara guru, orang tua, dan pihak sekolah. Orang tua perlu memahami bahwa peran guru dalam mendisiplinkan anak adalah bagian penting dari pendidikan. Mereka harus mendukung langkah-langkah yang diambil guru selama masih dalam batas yang wajar dan proporsional. Sebaliknya, guru juga perlu lebih transparan dalam menjelaskan tujuan dari setiap tindakan disiplin yang mereka ambil, sehingga orang tua dapat memahami bahwa hal tersebut dilakukan demi kebaikan anak mereka.

Selain itu, pihak sekolah perlu memberikan perlindungan dan dukungan yang lebih kuat kepada guru. Kebijakan yang tegas dan jelas mengenai disiplin siswa harus diterapkan agar guru memiliki landasan yang kokoh dalam menjalankan tugas mereka.

Tantangan disiplin dalam pendidikan masa kini adalah cerminan dari perubahan dinamika sosial yang memengaruhi hubungan antara guru, siswa, dan orang tua. Dalam situasi ini, diperlukan keseimbangan yang tepat agar proses pendidikan tetap berjalan efektif. Guru harus tetap diberdayakan sebagai figur yang memiliki otoritas dalam mendidik, sementara orang tua dan pihak sekolah harus berperan sebagai mitra yang mendukung. Dengan menjunjung nilai-nilai kebenaran dan keadilan sebagaimana diajarkan dalam Islam, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya nyaman tetapi juga efektif dalam membangun karakter anak bangsa. Mari bersama-sama menjadikan disiplin sebagai landasan utama dalam mencetak generasi yang unggul dan berakhlak mulia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button