Bertobat dari Dosa Zina dan Wajibnya menjaga kemaluan

Bertobat dari Dosa Zina dan Wajibnya Menjaga Kemaluan
M. Abdul Muiz, S.Pd.
Kita mesti paham, zina merupakan amalan yang merusak tatanan hidup. Jika Wanita berzina, sebuah aib telah menimpa keluarga besarnya. Bayangan malu menyelimuti mereka, apalagi jika sampai hamil di luar nikah. Bunuh bayi hasil zina? Itu gabungan dosa besar. Wanita bersuami yang berzina, memasukkan orang asing ke keluarganya. Orang asing itu bakal ikut campur urusan keluarga, bahkan mungkin mewarisi harta, sebuah ketidakadilan yang nyata. Nauzubillah. Banyak lagi kerusakan akibat zina yang tak terkira. Jika seorang laki-laki melakukan zina, ini akan mencampuradukkan silsilah keluarga, merusak wanita baik-baik, dan membuat mereka jatuh.
Maka, hukuman mati ditetapkan bagi pelaku berzina dengan cara paling menyakitkan. Karena, lebih mudah menerima kabar keluarga terbunuh daripada mengetahui mereka berzina. Hukuman untuk berzina bagi yang sudah menikah itu seperti hukuman Allah untuk kaum Luth. Mereka dihancurkan dengan lemparan batu. Lalu, zina dan homoseksual sama-sama menjijikkan. Mereka tak merasa malu kepada Allah atau manusia. Kejahatan homoseksual sudah menjangkit hati dan jiwa seperti racun yang menyebar ke seluruh tubuh.
Sungguh miris keadaan anak hasil zina. Anak ini tak bersalah atas dosa orang tuanya. Hanya saja, besar kemungkinan ia akan menjadi sarang kejahatan. Wajar jika anak ini sulit mendapatkan kebaikan, sebab ia berasal dari mani yang buruk. Jika neraka pantas untuk tubuh dari makanan haram, bagaimana dengan tubuh dari mani yang haram?
Ada yang berpendapat, “Orang seperti itu jauh lebih buruk dari anak haram. Jadi, wajar jika dia tak diberi kemudahan berbuat baik. Setiap kebaikannya, langsung Allah timpakan masalah sebagai balasan. Lihat saja, banyak yang masa kecilnya begitu, malah makin buruk saat dewasa. Dia tak diberi kesempatan untuk dapat ilmu bermanfaat, amal saleh, atau tobat sejati.”
Setelah dipikir dalam-dalam, ternyata jawabannya simpel. Kalau orang tersebut kembali ke jalan Allah, tobatnya tulus, dan amal baiknya melimpah ruah, maka hidupnya lebih baik dari masa kecilnya. Artinya, ia gantikan hal buruk dengan yang baik, bersihkan dosa dengan ibadah, pandang mata lurus, jaga diri, dan jujur kepada Allah. Orang seperti ini tentu bisa masuk surga, diampuni segala dosanya karena Allah Maha Pengampun.
Disebutkan dalam ash-Shahihain, bahwa Nabi bersabda,
إِنَّ اللهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللهُ
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu adalah jika seorang mukmin mengerjakan apa-apa yang diharamkan.” (HR. Al-Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)
Ingat, berzina itu dosa besar, setiap muslim yang pernah melakukannya harus bertobat dari zina. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Cara Bertobat dari Zina
Cara bertobat dari dosa zina adalah dengan tobat nasuha, tobat yang tulus. Cara tobat dari zina dengan memenuhi syarat tobat secara umum. Allah Ta’ala perintahkan untuk melakukan tobat nasuha, disebutkan dalam Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 8. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tobat sejati yakni tinggalkan dosa sekarang, sesali dosa lampau, dan berjanji tak mengulanginya. Jika dosa menyangkut orang lain, selesaikan atau kembalikan haknya (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 7:32).
Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Kalau orang berbuat zina lalu tobat sungguh-sungguh, menyesal dalam-dalam, dan berjanji tak mengulanginya, lebih baik diam-diam saja tobatnya. Semoga Allah menerima tobatnya. Kalau susah tobat sungguh-sungguh, takut jatuh lagi dalam dosa, lebih baik mengaku perbuatannya pada penguasa atau hakim, lalu terima hukumannya.” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 1:169)
Kesimpulan:
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan ada beberapa langkah penting cara bertobat dari zina, antara lain:
1. Niat yang tulus hanya karena Allah.
2. Segera melakukan tobat tanpa menunda-nunda.
3. Merasa penyesalan yang mendalam atas perbuatan yang telah dilakukan.
4. Kembali menjalankan ketaatan dan meninggalkan segala bentuk maksiat.
5. Bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
6. Bergaul dengan orang-orang saleh.
7. Terus berusaha melakukan kebaikan untuk menghapus dosa-dosa.
Mengapa penting berkumpul dengan orang-orang saleh? Karena interaksi dengan mereka dapat lebih menjaga keimanan kita. Semoga bisa diambil manfaatnya, hidayah taufik hanya milik Allah Ta’ala.
Daftar Pustaka
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. (2023). Ad-Daa’a Wa Ad-Dawaa’. Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc. (2020). Cara Taubat dari Zina dengan yang Berbeda Agama. Ambon: Rumaysho.com



