Akhlak

Pintu-Pintu Dosa dan Maksiat

ORDER

Pintu-Pintu Dosa dan Maksiat
M. Abdul Muiz, S.Pd.

Bagaimana dosa bisa menyusup ke dalam diri seseorang? Sebagian besar dosa datang melalui empat jalan: pandangan, bisikan hati, ucapan, dan langkah kaki.

A. Pandangan
Pandangan adalah penuntun dan penyampai hasrat. Menjaga pandangan adalah langkah penting dalam melindungi kehormatan diri. Siapa pun yang membuka pandangannya lebar-lebar, maka dia telah menempatkan dirinya pada jalan kehancuran.

Rasulullah ﷺ pun mengingatkan, “Janganlah kalian berkumpul di tepi jalan.” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, itu adalah tempat kami berkumpul. Kami tidak bisa meninggalkannya.” Beliau menjawab, “Jika kalian tetap harus melakukannya, maka berikanlah jalan itu haknya.” Para sahabat kemudian bertanya lagi, “Apa yang dimaksud dengan haknya?” Nabi pun menjelaskan, “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang lain, dan menjawab salam.” HR. Al-Bukhari (no. 6229) dan Muslim (no.2121)

Pandangan adalah awal dari semua masalah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan dapat memicu perasaan di dalam hati, lalu diikuti oleh impian yang meningkatkan nafsu dan keinginan yang semakin kuat, hingga akhirnya menjadi tekad yang bulat. Tindakan itu bisa terjadi dengan pasti, selama tidak ada sesuatu yang menghalanginya. Dalam konteks ini, kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban akibatnya.

B. Bisikan Hati
Bisikan hati jauh lebih kompleks, karena ia menjadi penghubung antara kebaikan dan keburukan. Bisikan hati akan memunculkan keinginan dan niat yang kuat. Oleh karena itu, barang siapa yang mampu menjaga bisikan hatinya tentu dapat mengendalikan diri dan menahan hasratnya. Sebaliknya, mereka yang terperdaya oleh bisikan hati pasti akan terjerat oleh jiwa dan nafsunya.

Sebaliknya, siapa pun yang mengabaikan bisikan hati, maka bisikan tersebut akan menyeretnya secara paksa menuju kehancuran. Sesungguhnya, bisikanini akan terus menghampiri hati, sehingga menjadi harapan yang tidak nyata. Baiknya, bisikan hati senantiasa berputar di sekitar empat pokok utama.

  1. Bisikan-bisikan untuk meraih kebaikan di dunia.
  2. Bisikan-bisikan untuk menghindari ancaman di dunia.
  3. Bisikan-bisikan untuk memperoleh kebaikan di akhirat.
  4. Bisikan-bisikan untuk menghindari ancaman di akhirat.

Hendaknya seorang hamba memfokuskan bisikan, perhatian, dan keinginannya semata-mata pada empat hal tersebut. Apa pun yang dapat digapai, harus dijaga, agar tidak terabaikan. Apabila ada konflik antara satu hal dengan yang lainnya karena perbedaan prioritas, maka utamakan hal yang paling penting, yang dikhawatirkan akan hilang, dan tunda yang lainnya.

C. Ucapan
Menjaga ucapan berarti tidak mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak membahas hal-hal yang tidak memberikan manfaat atau kebaikan dalam agama. Sebelum berbicara, sebaiknya pertimbangkan terlebih dahulu tentang manfaat dan kebaikan dalam pembicaraan tersebut. Jika tidak ada, sebaiknya diam saja. Jika ada kebaikan yang bisa diambil, tanyakan pada diri sendiri apakah ada pilihan kata yang lebih baik. Dengan cara ini, pernyataan yang bermanfaat tidak akan terbuang sia-sia karena ucapan yang tidak jelas.

Untuk mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati seseorang, perhatikan apa yang diucapkannya. Kata-kata dapat mencerminkan apa yang ada di hati, apakah si pemilik merasakan suka atau tidak. Nabi ﷺ pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka dan beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” At-Tirmidzi meriwayatkan hadis ini dalam Sunannya (no. 2004). Ia berkomentar, “Hadis ini hasan sahih.”

D. Langkah Kaki
Menjaga langkah kaki dilakukan dengan tidak melangkah kecuali untuk hal-hal yang diinginkan pahalanya. Jika dalam langkah tersebut tidak ada tambahan pahala, maka lebih baik baginya untuk duduk. Seseorang juga dapat berjalan untuk setiap hal yang diperbolehkan–sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ–sambil niatnya karena Allah. Karenanya, setiap langkah yang diambil menjadi bernilai ibadah.

Dengan memperhatikan ketergelinciran kaki dan ketergelinciran lisan, maka salah satu jenis tersebut akan dihadirkan bersama dengan jenis yang lainnya. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah ﷻ

“Adapun hamba-hamba Rabb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan salam.” (QS. Al-Furqân: 63)

Allah menyifati mereka dengan orang-orang yang istikamah dalam ucapan dan langkah. Hal ini sebagaimana Allah ﷻ menggabungkan antara pandangan dan keinginan dalam firman-Nya,

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ                          

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al-Mu’min: 19)

Daftar Pustaka
Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. (2023). Ad-Daa’a Wa Ad-Dawaa’. Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i

#Al Ma’tuq #Al Mathba’ah #Dosa

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Check Also
Close
Back to top button