Dampak Negatif Sound Horeg dalam Kehidupan Bermasyarakat
Ikhsan Abdul Aziz, M.Pd.
Fenomena sound horeg atau sistem tata suara (sound system) berdaya besar kini menjadi pemandangan lumrah di berbagai acara, di Jawa Timur. Kendati digemari banyak orang karena efek getarannya yang masif, fenomena ini menimbulkan perdebatan dan keresahan di tengah masyarakat. Padahal sudah banyak ulama yang menyatakan haram. Alih-alih menjadi hiburan, sound horeg justru menyimpan dampak negatif serius yang patut menjadi perhatian bersama.
1. Gangguan Kesehatan Fisik dan Psikologis
Paparan suara dengan intensitas tinggi, apalagi dalam durasi panjang, dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas aman paparan kebisingan adalah 85 dBA selama 8 jam. Sound horeg umumnya jauh melampaui batas tersebut, bahkan mencapai 120 dBA atau lebih, setara dengan suara mesin pesawat jet.
Secara fisik, paparan kebisingan ekstrem dapat merusak sel-sel rambut pada koklea di telinga bagian dalam, yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik ke otak. Kerusakan ini bersifat permanen dan dapat menyebabkan Tinnitus (telinga berdenging) atau bahkan kehilangan pendengaran secara total. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Noise & Health (2018) menunjukkan bahwa paparan kebisingan lingkungan dapat meningkatkan risiko penyakit seperti hipertensi, karena kebisingan memicu pelepasan hormon stres.
Secara psikologis, kebisingan juga memicu stres, gangguan tidur, dan kecemasan. Getaran frekuensi rendah dari sound horeg dapat mengganggu konsentrasi, menyebabkan sakit kepala, dan memicu ketidaknyamanan yang berujung pada mudah marah dan emosional.
2. Kerusakan Lingkungan dan Infrastruktur
Dampak getaran dari sound horeg tidak hanya berhenti pada tubuh manusia, tetapi juga pada lingkungan sekitar. Frekuensi rendah yang masif mampu merambat melalui tanah dan struktur bangunan. Getaran yang terus-menerus dapat melemahkan struktur bangunan, menyebabkan keretakan pada dinding, bahkan kerusakan pada fondasi. Hal ini sangat berisiko bagi bangunan yang sudah tua atau yang tidak dirancang untuk menahan getaran ekstrem.
Tidak hanya itu, sound horeg juga mengganggu ekosistem alam. Suara keras yang terus-menerus bisa membuat hewan-hewan liar, seperti burung dan serangga, mengalami disorientasi, mengubah pola migrasi, dan bahkan memengaruhi kemampuan mereka untuk bereproduksi. Hewan peliharaan pun tidak luput dari dampak negatif, mereka bisa menjadi stres, agresif, atau ketakutan.
3. Dampak Sosial dan Erosi Toleransi
Di ranah sosial, fenomena sound horeg sering menjadi pemicu konflik antarwarga. Dalam laman www.kompas.id disebutkan bahwa kontroversi sound horeg lahir dari benturan kebutuhan hiburan dan hak atas ketenangan. Suara keras yang tidak terkontrol memang bisa mengganggu ketenangan, terutama bagi warga yang sedang sakit, lanjut usia, atau bayi. Bagi umat beragama, suara ini jelas mengganggu kegiatan ibadah di rumah maupun di tempat ibadah. Konflik ini menjadi pecah karena teguran yang tidak diindahkan, mengikis rasa toleransi serta saling menghargai.
Dalam konteks yang lebih luas, tren sound horeg mencerminkan sebuah pergeseran nilai dalam masyarakat. Kesenangan yang diukur dari seberapa keras dan masifnya suara yang dihasilkan, sering mengabaikan hak-hak orang lain untuk mendapatkan ketenangan. Hal ini menunjukkan erosi terhadap etika sosial, di mana empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar mulai tergerus.
4. Aspek Hukum dan Regulasi
Meskipun belum ada regulasi khusus yang mengatur sound horeg, dampak kebisingan ini bisa dijerat dengan berbagai peraturan yang sudah ada. Ada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur baku mutu kebisingan. Selain itu, ada juga Pasal 503 KUHP tentang gangguan ketenteraman umum yang bisa digunakan untuk menindak pelaku kebisingan berlebihan yang mengganggu masyarakat. Namun, penegakan hukumnya masih lemah karena minimnya pemahaman dan kesadaran akan dampak negatifnya.
Simpulan
Sound horeg bukanlah sekadar hiburan, melainkan fenomena yang berdampak luas dan merusak. Mulai dari gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, hingga erosi nilai sosial, dampak negatifnya sangat nyata dan tidak bisa diabaikan. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat bijak dalam memilih hiburan, menempatkan empati dan kepedulian sosial di atas segalanya. Peran semua elemen sangat penting untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya menghargai hak orang lain. Ketenangan adalah hak setiap warga negara dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya.
Daftar Pustaka
Babisch, W. (2018). Cardiovascular effects of noise. Noise & Health, 20(92), 17-26.
https://www.kompas.id/artikel/mengapa-sound-horeg-memicu-perdebatan-di-masyarakat (diakses pada 2 Agustus 2025)
Passchier-Vermeer, W., & Passchier, W. F. (2000). Noise Exposure and Public Health. Environmental Health Perspectives, 108(suppl 1), 123-131.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
World Health Organization. (2018). Environmental Noise Guidelines for the European Region. WHO Regional Office for Europe.


