
Literasi Kritis Lebih dari Sekadar Membaca dan Menulis
Ikhsan Abdul Aziz, S.Pd.
Di era digital ini, anak-anak sudah semakin akrab dengan kata-kata. Buku, artikel, blog, bahkan konten media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Sekilas, hal ini menunjukkan perkembangan minat baca dan tulis yang menggembirakan. Namun, di balik peningkatan tersebut, ada satu tantangan besar yang sering luput dari perhatian, yakni kemampuan berpikir kritis dan mempraktikkan apa yang telah dibaca. Minat baca yang sekadar membaca tanpa mendalami dan menulis tanpa analisis mendalam, adalah langkah yang setengah jalan menuju keberhasilan pendidikan.
Kualitas Membaca
Beberapa bulan lalu, penulis mengikuti seminar internasional tentang bahasa. Dalam seminar tersebut, narasumber yang merupakan mantan Kepala Badan Bahasa Kemdikbudristek menyampaikan bahwa anak-anak sekolah sekarang sudah cukup rajin membaca. Kata beliau, hal yang perlu diperhatikan adalah pemilihan konten dan peningkatan kualitas membaca. Pernyataan beliau inilah yang juga mendasari mengapa penulis menyusun tulisan sederhana ini.
Membaca bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga tentang kualitas. Anak-anak zaman sekarang memang sudah banyak terpapar bacaan. Mereka bisa dengan mudah mengakses berbagai sumber informasi, dari buku teks hingga konten digital. Namun, apakah membaca banyak berarti mereka telah memahami esensinya? Inilah pertanyaan yang perlu direnungkan. Literasi tidak hanya tentang seberapa banyak tulisan yang dibaca, tetapi juga tentang bagaimana mereka memproses informasi, merenungkannya, dan menerapkan apa yang telah dipelajari.
Kita sering melihat fenomena di mana anak-anak dapat dengan mudah menyerap informasi secara cepat, namun hanya di permukaan. Mereka membaca tanpa mengkritisi, menerima tanpa menelaah, dan menulis tanpa mengembangkan argumen yang kuat. Di sinilah kita harus masuk sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat yang peduli. Kita perlu mendorong mereka untuk tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga pemikir kritis.
Kritis dalam Membaca
Kritis bukan berarti mencela, tetapi kemampuan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan memahami lebih dalam. Bagaimana caranya kita bisa membantu anak-anak mencapai tahap ini? Salah satu langkahnya adalah dengan mengajarkan mereka untuk selalu bertanya setelah membaca. Pernahkah kita berpikir ketika membaca, apa maksud dari bacaan ini? Apa dampaknya bagi kehidupan saya? Apakah informasi ini bisa diterapkan? Bagaimana jika sebaliknya?
Anak-anak perlu dibimbing untuk melihat bacaan sebagai pintu menuju pemahaman yang lebih luas, bukan hanya sebagai akhir dari aktivitas membaca. Ketika mereka diajak untuk berpikir kritis, mereka belajar untuk tidak menerima sesuatu begitu saja. Prosesnya dapat dengan menganalisis, mencari suatu hubungan, dan menempatkan diri mereka dalam konteks bacaan tersebut. Mereka akan mulai memahami bahwa setiap teks memiliki tujuan dan penting untuk menelaah maksud di baliknya.
Kemampuan Menulis
Tak kalah penting dari membaca adalah kemampuan menulis. Menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menciptakan argumen dan mengembangkan gagasan. Menulis dapat menjadi alat yang efektif untuk menguji pemahaman seseorang terhadap apa yang telah dibaca. Ketika anak-anak diminta untuk menulis, mereka ditantang untuk mengorganisasi pikiran, memikirkan argumen yang logis, dan menyampaikan pendapat dengan cara yang jelas dan terstruktur.
Sayangnya, banyak anak-anak yang menulis hanya untuk memenuhi tugas sekolah, tanpa merenungkan kedalaman konten yang mereka tuliskan. Sebagai pendidik, penting bagi kita untuk memberikan ruang agar mereka menulis bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga sebagai cara untuk berpikir lebih dalam, mengeksplorasi ide, dan mengembangkan apa yang mereka baca.
Literasi dalam Diskusi
Untuk mengatasi kurangnya kekritisan dan praktik dari apa yang telah dibaca, literasi kritis perlu diintegrasikan dalam sistem pendidikan. Mulailah dengan pendekatan yang sederhana tetapi berdampak besar. Sebagai contoh, kita bisa ajak anak-anak berdiskusi tentang apa yang telah mereka baca. Pendidik juga bisa mendorong mereka untuk menulis tanggapan tentang sebuah topik atau mengembangkan tulisan seputar isu-isu yang relevan dengan kehidupan mereka.
Proses ini bisa dimulai sejak dini, misalnya dengan mengajarkan anak-anak untuk menyimpulkan isi cerita yang mereka baca, menggambarkan karakter yang mereka temui, atau membandingkan dua cerita dengan tema yang sama. Ketika mereka sudah terbiasa berpikir kritis, kemampuan ini akan terbawa hingga dewasa, dan mereka akan menjadi pembaca dan penulis yang mampu memanfaatkan informasi dengan bijak.
Penutup
Sebagai penutup dari artikel ini, penulis ingin menyampaikan bahwa tujuan literasi bukan hanya tentang mengenalkan dunia buku pada anak-anak, tetapi bagaimana mereka bisa menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk berkontribusi dalam kehidupan nyata. Membaca dan menulis seharusnya menjadi alat transformasi, bukan sekadar aktivitas pasif. Literasi yang kritis adalah kunci bagi anak-anak kita untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijak dalam menilai dunia di sekitar mereka.
Di bulan bahasa ini (Oktober), mari kita berkomitmen untuk menumbuhkan dan membina generasi yang tidak hanya gemar membaca dan menulis, tetapi juga mampu berpikir kritis dan mempraktikkan apa yang mereka pelajari. Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah memproduksi penghafal, tetapi membentuk pembelajar yang aktif, kritis, dan berdaya guna.



