
Memahami Syirik
Oleh Muhammad Ichsan, B.A., M.Pd.
A. Definisi Syirik
Syirik merupakan sebuah dosa yang seharusnya tak lagi terdengar asing di telinga kaum muslimin. Syirik merupakan dosa yang paling berat disisi Allah ﷻ dan ancamannya adalah kekal selama-lamanya di dalam neraka. Hal tersebut tidak lain disebabkan dosa syirik merupakan perbuatan dosa yang berkaitan dengan hak Allah ﷻ.
عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ : عُفَيْرٌ، فَقَالَ : ” يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ؟ “. قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : ” فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا “.
Dari Muadz bin Jabal Rhadiallahu ‘Anhu, “Aku pernah dibonceng oleh nabi ﷺ di belakang seekor keledai yang bernama ufair. Maka nabi ﷺ bersabda, “Wahai Muadz, tahukah engkau apa itu hak Allah atas hamba-Nya dan apa itu hak seorang hamba atas Allah?” Maka aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Maka beliau ﷺ menjawab, “Hak Allah atas hamba-Nya adalah diibadahi dan tidak dipersekutukan dengan sesuatu apa pun dan hak hamba atas Allah adalah tidak akan diadzab bagi siapa saja yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun”[1]
Allah ﷻ banyak menyebutkan dosa Syirik di dalam Al-Qur’an, di antaranya firman Allah ﷻ,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni dosa yang selain (syirik) bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48)
Syirik merupakan perbuatan dosa yang berkaitan dengan hak Allah ﷻ sebab apabila seseorang berbuat syirik, maka pada hakikatnya ia telah menzalimi Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah ﷻ,
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Kezaliman secara bahasa artinya adalah lawan dari adil. Apabila adil adalah menaruh sesuatu pada tempatnya, maka zalim adalah menaruh sesuatu bukan pada tempatnya. Dan kesyirikan adalah menaruh ibadah bukan pada tempatnya. Karena pada hakikatnya ibadah hanya boleh diberikan kepada Allah ﷻ saja.
Syirik secara bahasa diambil dari kata أَشْرَكَ-يُشْرِكُ , yang artinya menjadikan sesuatu sebagai tandingan. Seseorang dikatakan sebagai شَرِيْكٌ, apabila ada yang menandinginya dalam kepemilikan suatu hal. Seorang istri dikatakan شَرِيْكٌ oleh madunya tatkala ia menjadi tandingan di dalam kepemilikan suaminya.
Adapun secara istilah, syirik adalah menyekutukan Allah ﷻ di dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Dan perlu diketahui bersama bahwa kekhususan Allah ﷻ mencakup 3 hal:
a. Peribadatan, atau yang dikenal dengan tauhid uluhiyyah.
b. Penciptaan, kepengaturan dan kepemilikan, atau yang dikenal dengan tauhid rububiyyah.
c. Kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau yang lebih dikenal dengan tauhid asma’ wa Sifat.
B. Sebab Terjadinya Kesyirikan
Awal mula terjadinya kesyirikan di muka bumi adalah disebabkan ghuluw terhadap orang-orang saleh.[2] Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an,
وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ
“Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūtṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.’” (QS. Nuh: 23)
Ibnu Abbas Rhadiallahu ‘Anhu berkata, “Kelimanya ini merupakan nama-nama berhala terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nabi Nuh alaihisalam. Semula merupakan nama-nama orang saleh, lalu ketika mereka meninggal setan membisiki manusia agar menggambarnya untuk memotivasi diri mereka agar dapat beribadah lebih baik. Setelah berganti generasi mereka pun membuatkan patung-patung untuk mengenang 5 orang saleh itu, kemudian seiring berlalunya waktu, akhirnya manusia pun menyembahnya.[3]
Dari sini dapat kita pahami bahwa di antara perkara yang sangat berbahaya bagi kemurnian tauhid adalah sikap ghuluw terhadap orang-orang saleh.
[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam sahihnya nomor 2856 jilid 4 pada kitab al-Jihad wa as-Sayr, bab ismul furs wal himar”.
[2] Berlebih-lebihan di dalam mengagungkan dan mencintai orang-orang saleh.
[3] Taufiqi Rabbil mun’im bi Syarh Shahih al Imam Muslim, karya Abdul bin Abdullah Ar-Rajihiy (6/208).



