Sejarah dan Kisah

Perang Yamamah (Part-1): Pertarungan melawan nabi palsu

ORDER

Perang Yamamah (Part-1): Pertarungan melawan nabi palsu
Muhammad Ichsan, BA., M.Pd.

  1. Muqaddimah
                Salah satu keyakinan pokok dalam agama Islam yang tidak dapat dielakkan adalah bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah Al-Hasyimi Al-Qurasyi ﷺ merupakan utusan Allah yang diutus oleh Rabbul alamin kepada seluruh manusia dan jin di dunia. Beliau juga merupakan penutup para nabi dan rasul, sehingga tidak ada lagi nabi maupun rasul setelahnya. Siapa pun yang mengaku sebagai nabi atau rasul, baik dengan membawa syariat baru maupun tanpa syariat baru, setelah Nabi Muhammad ﷺ, atau siapa saja yang membenarkan klaim tersebut, maka ia telah keluar dari ikatan Islam.

Namun, dalam hikmah Allah, Dia menguji keimanan para hamba-Nya dengan memunculkan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ. Bagi mereka yang berpegang teguh pada ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ, kemunculan para pendusta ini justru semakin menguatkan keimanan mereka kepada kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ dan agama Islam yang beliau bawa. Hal ini tidaklah mengejutkan, karena Rasulullah ﷺ sendiri telah mengabarkan sebelumnya bahwa akan muncul para dajjal (pendusta) yang mengaku sebagai nabi.

  • Siapakah Musailamah Al-Kadzab?
                  Musailamah Al-Kadzab adalah salah satu pendusta yang mengaku sebagai nabi setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Para sejarawan berbeda pendapat tentang nama aslinya. Ada yang menyebutnya Musailamah bin Hubaib al-Hanafi, sementara pendapat lain mengatakan ia bernama Musailamah bin Tsamamah bin Katsir bin Hubaib al-Hanafi. Sebagian juga menyebut kunyah-nya sebagai Abu Tsamamah atau Abu Harun.

Musailamah lahir di wilayah Yamamah, tepatnya di desa al-Jibliyah yang berada dekat dengan Uyainah di lembah Hanifah, kawasan Nejd. Ia hidup lebih lama dibanding Rasulullah ﷺ dan tewas pada usia sekitar 150 tahun dalam Perang Yamamah. Sebelum kedatangan Islam, Musailamah adalah tokoh agama di Yamamah yang memiliki banyak pengikut.

Sebelum mengklaim kenabian, Musailamah sering bepergian ke pasar-pasar di kota besar seperti al-Anbar dan Hirah untuk menjalin hubungan dengan berbagai kalangan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai berbicara, berpengaruh, dan cerdik dalam menarik simpati. Dengan tipu dayanya, ia berhasil memikat banyak pengikut, bahkan menamai dirinya sendiri sebagai “Rahman al-Yamamah.” Namun, kehendak Allah menjadikannya dikenang dengan gelar “Musailamah Al-Kadzab” (Musailamah si Pendusta).

Ketika Musailamah menyatakan dirinya sebagai nabi palsu, Rasulullah ﷺ masih berada di Mekah. Musailamah bahkan mengutus orang-orang untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an di Mekah, lalu menirukan ayat-ayat tersebut dan mengklaimnya sebagai wahyu darinya.

  • Fanatisme Kesukuan yang Membutakan
                  Dukungan yang diterima Musailamah sebagian besar didorong oleh fanatisme kesukuan yang kuat. Para pengikutnya di Yamamah bangga karena berasal dari keturunan Rabiah, yang mereka anggap sejajar dengan keturunan Mudhar. Mereka merasa, jika keturunan Mudhar memiliki seorang nabi, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, maka keturunan Rabiah pun harus memiliki nabi, yakni Musailamah.

Suatu hari, Thalhah an-Namiri mendatangi Musailamah untuk menguji klaim kenabiannya. Dalam sebuah pertemuan, Thalhah menanyakan langsung kepada Musailamah mengenai asal wahyu yang ia klaim. Ketika ditanya, “Siapa yang datang kepadamu?” Musailamah menjawab, “Rahman.” Thalhah pun bertanya lebih jauh, “Apakah Dia datang dalam cahaya atau kegelapan?” Musailamah menjawab, “Dalam kegelapan.”

Mendengar jawaban ini, Thalhah langsung menegaskan, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah pendusta, sedangkan Muhammad adalah kebenaran. Namun, pendusta dari Rabiah lebih kami cintai daripada orang yang jujur dari Mudhar.” Pernyataan ini menggambarkan betapa kuatnya fanatisme suku di kalangan pengikut Musailamah, hingga kebenaran pun diabaikan.

  • Pertempuran Yamamah
    Ibnu Katsir menceritakan kisah kematian Musailamah Al-Kadzab dalam Perang Yamamah, pertempuran besar yang terjadi pada akhir tahun ke-11 H [1]antara pasukan muslimin dan pengikut Musailamah.[2]

Saat pasukan Musailamah menghadapi pasukan muslimin, ia berkata kepada pengikutnya, “Hari ini adalah hari kecemburuan. Jika kalian kalah, maka istri-istri kalian akan menjadi tawanan dan budak. Berperanglah untuk kehormatan kalian!”

Khalid bin Walid, pemimpin pasukan muslimin, mengatur strategi dengan membagi pasukan menjadi beberapa kelompok. Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim, maula Abu Hudzaifah. Bendera kaum Anshar dibawa oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, sementara suku-suku Arab lainnya memiliki bendera masing-masing.

Pertempuran pun berlangsung sengit. Pasukan muslimin dengan gagah berani maju ke medan pertempuran, menghadapi musuh-musuh Allah. Perang Yamamah menjadi saksi kegigihan para sahabat dalam membela Islam, hingga akhirnya Musailamah Al-Kadzab tewas di tangan Wahsyi bin Harb, pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib sebelum ia masuk Islam.

(Bersambung ke bagian kedua: Perang Yamamah (Part 2): Kisah Heroik Khalid bin Walid dan Kematian Musailamah)
#AlMa’tuq#AlMathbaah#Sejarah Islam


[1] Tarikh Khulafa’ karya As-Suyuthi (hal. 161)
[2] Al Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (9/465)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button