Inspirasi Pendidikan pada Kisah Nabi Sulaiman Alaihi Salam

Inspirasi Pendidikan pada Kisah Nabi Sulaiman Alaihi Salam
Yan Ferdianza, S.Pd., M.Si.
Saat membaca sebuah kisah, mungkin kita hanya mengikuti alur peristiwanya tanpa benar-benar menggali makna yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan kisah-kisah umat terdahulu yang tercantum dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah ini sebenarnya dipenuhi dengan pelajaran berharga yang bisa kita ambil manfaatnya, seperti dalam surah Al-‘Araf ayat 176 yang artinya, “Sampaikanlah kisah-kisah agar mereka berpikir.”
Allah telah menurunkan sepertiga dari Al-Qur’an dalam bentuk kisah. Ayat di atas adalah perintah kepada kita untuk mengambil hikmah dari cerita-cerita yang disampaikan. Semakin mendalam kita berpikir dan merenungkan kisah-kisah tersebut, semakin banyak pelajaran dan teladan yang dapat kita ambil.
Kisah Nabi Sulaiman alaihi salam dan Saba adalah salah satu cerita yang cukup terkenal. Telaah kisah ini dari perspektif Nabi Sulaiman yang merupakan seorang Rasul dan berperan sebagai guru. Ratu Saba yang pada saat itu belum beriman, menjadi murid bagi Nabi Sulaiman.
Ratu Saba dikenal sebagai Balqis binti Syarahbil yang berasal dari keturunan Saba di Yaman. Ratu Bilqis memiliki kekayaan yang melimpah, setara dengan harta yang biasa dimiliki oleh seorang penguasa. Ia duduk di atas singgasana yang besar, megah, dan dilapisi dengan emas serta dihiasi dengan intan berlian.
Istana Ratu Bilqis memiliki tiga ratus enam puluh jendela di bagian timur dan jumlah yang sama di bagian barat. Desain bangunan ini dirancang sedemikian rupa agar sinar matahari dapat masuk setiap hari melalui jendela tersebut, sehingga dapat menyambut keindahan matahari saat terbit dan tenggelam di pagi dan sore hari. Dalam perjalanan hidupnya, Ratu Bilqis dan rakyatnya hidup dalam kegelapan kekafiran.
Singkat cerita, Ratu Balqis akhirnya mengunjungi istana Nabi Sulaiman. Pertemuan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Nabi Sulaiman untuk menanamkan iman di dalam hati Ratu Balqis. Sebagai seorang pemimpin dan guru, Nabi Sulaiman merencanakan strategi cerdas untuk menyampaikan pesan keimanan kepada sang ratu. Ia mengumpulkan para pembesar kerajaannya dan meminta mereka untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis ke dalam kerajaannya.
Saat Ratu Balqis tiba, Nabi Sulaiman mengajukan pertanyaan yang menggugah pikiran. “Apakah ini singgasanamu?” Selain itu, beliau juga menyiapkan sebuah istana dengan lantai kaca bening yang memantulkan keindahan kolam ikan yang ada di bawahnya. Tanpa menyadari, Ratu Balqis spontan mengangkat pakaiannya. Dengan izin Allah, keimanan pun merasuk ke dalam hati Ratu Balqis dan ia berkata, “Ya Tuhanku, sungguh aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Kini aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
Dari kisah pendek Nabi Sulaiman ini, mari kita renungkan pelajaran berharga apa yang bisa diambil.
Mengumpulkan Informasi yang Relevan
Nabi Sulaiman berperan sebagai seorang guru yang cermat dalam mengumpulkan informasi mengenai kondisi Ratu Bilqis. Diketahui bahwa Ratu Bilqis adalah penguasa negeri Saba yang dikenal memiliki istana dan singgasana yang megah. Dalam keadaan tersebut, Ratu Bilqis beserta rakyatnya berada dalam kekafiran dengan menyembah matahari. Data-data yang telah dikumpulkan ini menjadi pertimbangan penting bagi Nabi Sulaiman dalam merancang strategi dan pendekatan yang tepat.
Mengoptimalkan Momentum
Kunjungan Ratu Bilqis ke kerajaan Nabi Sulaiman merupakan kesempatan berharga yang patut dimanfaatkan untuk menguatkan keimanan. Salah satu cara pembelajaran yang efektif adalah melalui pengambilan momen yang tepat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya terbatas pada ruang formal seperti kelas, tetapi bisa terjadi di mana saja.
Menyusun Media dan Alat Pembelajaran
Nabi Sulaiman sebagai seorang guru, dengan cermat mempersiapkan semua media dan peralatan yang diperlukan untuk menanamkan keimanan dalam hati Ratu Balqis. Beliau menyesuaikan metode pembelajaran dengan latar belakang dan kondisi Ratu Balqis, seorang penguasa negeri yang telah terbiasa hidup dalam kemewahan dan kemegahan istana.
Untuk itu, Nabi Sulaiman menyiapkan media pembelajaran yang lebih menakjubkan dan berkualitas daripada yang pernah dilihat oleh Ratu Balqis. Pertama, beliau menghadirkan singgasana yang mewah dan megah, mirip dengan yang dimiliki Ratu Balqis. Hal ini pastinya membuat hati Ratu Balqis bergetar, karena singgasana indah tersebut ternyata juga dimiliki oleh orang lain.
Kedua, ada lantai kaca bening yang menampilkan kolam ikan, sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan bagi Ratu Balqis. Ia mengira bahwa lantai tersebut adalah kolam ikan. Dengan izin Allah, semua keajaiban ini berhasil menyentuh akal dan hati Ratu Balqis, sehingga ia bisa menerima risalah yang disampaikan oleh Nabi Sulaiman alaihi salam.
Mengajukan Pertanyaan untuk Menguatkan Ilmu
Salah satu cara untuk menguatkan ilmu dalam hati santri/peserta didik adalah dengan mengajukan pertanyaan. Nabi Sulaiman dalam interaksinya dengan Ratu Balqis mengajukan pertanyaan yang singkat, padat, dan jelas, namun mampu menyentuh akal serta hati sang ratu. “Apakah ini singgasanamu?” Meskipun Nabi Sulaiman belum pernah mengunjungi negeri Saba, ia mampu menggambarkan singgasana yang ada di hadapannya persis dengan singgasana milik Ratu Saba.
Ajukanlah pertanyaan yang efektif dan mudah dipahami kepada para santri. Selain itu, pastikan pertanyaan yang diajukan memiliki relevansi yang besar dengan tujuan pembelajaran yang kita harapkan.
Di akhir perjalanan pendidikannya, Ratu Balqis menundukkan kepala dan menyerahkan diri. Ia mengakui serta meyakini kebesaran Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku. Aku berserah diri kepada-Mu bersama Sulaiman, ya Allah, Tuhan semesta alam.”
Betapa bahagianya seorang guru ketika menyaksikan anak didiknya tumbuh dalam keimanan dan kemuliaan akhlak. Pendidikan sejati adalah ketika ilmu menyentuh hati dan mengantarkan pada pengakuan terhadap kebesaran Allah.



