
Invasi Usamah bin Zaid ke Negeri Syam
Muhammad Ichsan, B.A., M.Pd.
- Mukadimah
Usamah bin Zaid رضي الله عنه adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau dipercaya oleh Rasulullah ﷺ untuk menjadi komandan pasukan yang beranggotakan sahabat-sahabat senior seperti Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, padahal Usamah bin Zaid kala itu belum genap 20 tahun.[1]
Usamah رضي الله عنه lahir pada tahun ke-7 sebelum hijrah ke Madinah. Kondisi dakwah yang begitu sulit saat itu membuat Rasulullah ﷺ senantiasa bersabar. Ketika berita kelahiran Usamah sampai ke Rasulullah ﷺ, maka wajah beliau langsung berseri-seri. Usamah tumbuh sebagai pribadi yang cerdik dan pintar, berani luar biasa, bijaksana, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, pengasih dan dikasihi banyak orang, takwa, wara’ (berhati-hati), dan mencintai Allah ﷻ.
Pengiriman pasukan ke Syam pada asalnya merupakan sebuah tindak lanjut pengiriman pasukan yang sebelumnya dipimpin oleh sang ayah, Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah dikirim melawan pasukan Romawi di perang Mu’tah. Di akhir hayatnya, Rasulullah n memerintahkan agar pasukan Usamah ini diberangkatkan. Hingga pada saat pasukan ini sampai di daerah Jurf, terdengar kabar bahwa Nabi ﷺ meninggal dunia. Sehingga untuk sementara misi penyerangan pun ditunda, sampai kemudian terpilihlah Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه sebagai Khalifah. Dan sang khalifah ini yang kemudian melanjutkan misi tersebut dengan tetap mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pemimpin pasukan.
- Pemberangkatan Pasukan Usamah bin Zaid ke Syam
Selaku Khalifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه tetap bertekad merealisasikan pengiriman pasukan Usamah yang sudah dipersiapkan oleh Rasulullah menuju Syam. Dengan berjalan kaki, beliau pun mengantarkan pasukan ini sampai ke perbatasan kota Madinah, setelah itu beliau memberikan beberapa wasiat kepada sang komandan.
Pada asalnya keputusan invasi ini menuai kontra dari sebagian sahabat lainnya, kondisi keamanan umat Islam di Madinah sedang kurang stabil. Rawan digempur oleh pasukan kafir dari arah mana pun.
Umar bin Khattab رضي الله عنه termasuk di antara sahabat yang memberikan masukan kepada Abu Bakar رضي الله عنه untuk menunda pemberangkatan pasukan agar stabilitas keamanan Madinah lebih terjaga. Namun Abu Bakar menolaknya, mengingat pemberangkatan pasukan ini adalah wasiat Rasulullah ﷺ.
Umar bin Khattab tetap berusaha memberi masukan, hingga kemudian menyarankan agar panglima perang diganti dari Usamah bin Zaid ke sahabat lainnya yang lebih berpengalaman, mengingat ketika itu Usamah bin Zaid masih berusia 17 tahun. Abu Bakar mendengar itu langsung melompat dari tempat duduknya dan menarik jenggot Umar bin Khattab, beliau mengingatkan Umar agar jangan pernah meragukan pilihan Rasulullah ﷺ sekecil apa pun (termasuk pengangkatan Usamah sebagai panglima perang).
Maka pada akhirnya berangkatlah pasukan Usamah bin Zaid رضي الله عنه, mereka bergerak menuju daerah Balqa yang mencakup Mu’tah. Pasukan kaum muslimin diberangkatkan dengan diliputi perasaan sedikit was-was, namun Usamah bin Zaid benar-benar menunjukkan kehebatannya.
Di sana, pasukan ini memerangi sejumlah orang dari suku Qudha’ah yang murtad dan berhasil memukul mundur mereka. Ia mampu membawa pasukan dalam peperangan, meredam gejolak, menumpas para pengkhianat, menyalurkan logistik, membagi ghanimah hanya dalam waktu 40 hari. Dan dalam peperangan tersebut, tidak ada satu pun pasukan muslim yang gugur.
Ketika menjadi panglima perang, usianya saat itu baru menginjak 17 tahun, wajar jika sebelumnya para sahabat agak meragukan kepemimpinannya. Namun ia membuktikan, dialah panglima besar di usianya yang sangat muda.
- Kisah Kemenangan Usamah bin Zaid رضي الله عنه
Karena usianya yang masih sangat muda, maka tak heran jika Usamah bin Zaid رضي الله عنه awalnya diragukan kemampuannya oleh para sahabat. Meski demikian, Usamah dan pasukannya berhasil bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah menuju perbatasan Syam, setelah melewati beberapa daerah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits.
Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap.
Ia mengusulkan agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju, dengan cepat mereka bergerak. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya. Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar dan tanpa jatuh korban seorang pun.
Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang-orang. Sehingga ada yang mengatakan, “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”
Pengaruh dari keberhasilan pasukan ini, menyebabkan para pemberontak yang murtad merasa gentar dan ketakutan. Mereka tetap meyakini, bahwa kaum muslimin masih berada dalam kekuatan penuhnya, meskipun Rasulullah ﷺ telah wafat. Sehingga mereka pun mengurungkan niat untuk melakukan penyerangan ke kota Madinah.
[1] Asy-Syabab fis Sunnah An-Nabawiyyah, DR. Nafidz Husain dan Walid Al-Gharbawi, hal. 17-20].



