
Pengaruh Media Sosial Terhadap Perkembangan Bahasa Generasi Z dan Generasi Alpha
Annisa Delis, S.Pd.
Di era digitalisasi ini media sosial sangat berpengaruh dan menjadi layanan komunikasi sekaligus menjadi sumber berita yang sangat lazim didapat. Pengaruh tersebut membuat mudahnya transfer berbagai berita secara menyeluruh. Apa pun yang diinginkan akan sangat mudah didapat di media sosial. Lalu, siapa yang menuliskan dan menyebarkan banyak pemberitahuan di media sosial? Jawabannya adalah seluruh masyarakat yang berkontribusi menekan tombol posting dengan mudahnya.
Pengaruh dari pemberitahuan pada laman media masa memberikan pengaruh yang besar, contohnya pada pengaruh bahasa saat berkomunikasi dengan teman sepermainan dan dijadikan kebiasaan. Kebiasaan itu akan terus berlanjut hingga ke ranah keluarga, sekolah, bahkan mungkin tempat kerja. Setelah dianalisis bahasa dalam obrolannya banyak menggunakan bahasa gaul yang mungkin jika didengarkan oleh generasi milenial akan asing didengar. Mari kita pecahkan dulu silsilahnya berdasarkan generasi pada masa kelahirannya.
Menurut Stillman generasi yang pertama yaitu Boomer 1946-1964 yang tumbuh dari para imigran yang ingin berbaur dan menyesuaikan diri (Stillman, 2018:11). Berikut tabel generasi berdasarkan tahun kelahiran dan perkembangan yang terjadi pada masanya.
| Julukan Generasi | Rentan Tahun |
| Traditionalist Pra | 1946 |
| Generasi Boomer | 1946-1964 |
| Generasi X | 1965-1979 |
| Milenial (Gen Y) | 1980-1994 |
| Generasi Z (Gen Z) | 1995-2010 |
| Generasi Alpha 2011-2025 | 2011-2025 |
Orang tua Gen Z sudah mengalami teknologi digital yang canggih pada masanya. Sehingga teknologi dan internet menemani masa pertumbuhan mereka hingga hadirlah gawai yang dapat memberi dan menerima informasi. Sampai saat mereka berusia remaja memiliki ketergantungan pada teknologi dan gawai untuk menunjukkan popularitas. Namun, Gen Z lebih melek dalam penggunaan teknologi internet dan gawai untuk berinteraksi dan memperluas koneksi. Mereka berinteraksi lewat short message SMS, inbox, dan chatting di platform media sosial.
Berdasarkan hal tersebut, munculah kata-kata dan frasa bahasa Inggris yang disingkat, karena Gen Z membaca tren dari media sosial. Contoh istilah bahasa Inggris yang disingkat oleh Gen Z adalah Fear of Missing Out “FOMO” yang bermakna ketika ‘kamu cemas atau takut’ dan ‘takut ketinggalan’ hal menyenangkan yang sedang dilakukan kebanyakan orang di sosial media atau di real life. Istilah lain yang mereka gunakan seperti, You Only Live Once “YOLO” dan In Real Life “IRL”.
Berbeda dengan jalan perkembangan generasi Alpha atau ‘anak-anak milenium’ yang lahir pada tahun 2011-2025 (generasi termuda saat ini). Mereka lahir dari generasi Milenial pada tahun 2011 yang merupakan masa canggih dan segala bentuk komunikasi sudah melalui ponsel pintar. Apa pun yang dibutuhkan untuk pengetahuan dan keterampilan segalanya ada dalam internet dan platform media sosial.
Pengaruh media sosial sudah terpapar sejak dalam kandungan, maka tidak salah generasi ini lebih interaktif menggunakan gawai dan alat perangkat canggih lainnya. Hingga saat mereka beranjak di usia remaja ketenaran dan popularitas menjadi daya tarik utama. Maka tidak heran mereka lebih mengetahui segala macam informasi seputar digitalisasi dibanding orang tuanya.
Dari bahasa yang dibaca mungkin sudah berbeda dengan Gen Z, bahasa mereka terbilang lebih sulit dipahami orang tua. Seperti trennya bahasa slang, singkatan dan campur kode antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris kerap digunakan dalam aktifvitas sehari-hari di sekolah, di tempat kerja, dan yang lebih terdengar yaitu saat mereka sedang duduk di kursi tongkrongan.
Pengaruh media sosial saat ini menjadi tren yang tidak ada habisnya, terlebih ditambah banyak aplikasi baru yang membuat mereka lebih hype bersosial media. Ini menjadi tantangan baru bagi orang tua untuk mendidik budi pekerti dan budaya kekeluargaan, karena akan lenyap tertelan benda batangan yang selalu mereka genggam. tidak heran bukan, jika orang tua hanya bisa berkomunikasi dengan anaknya lewat pesan di Whatsapp dari pada di meja makan.
Gen Alpha menduduki posisi terpasih bersosial media. Mereka terbiasa dengan teknologi internet, multitasking, dan pembelajaran melalui teknologi. Akibatnya pengaruh bahasa Gen Alpha dari sosial media akan berdampak saat mereka sedang di lingkungan sekolah. Mungkin menggunakan bahasa slang sebagai penjelasan singkat atau sesederhana mereka saat berbicara dengan teman.
Berdasarkan tren yang terus lahir, sebagai orang tua dan guru harus bisa menyesuaikan diri dengan memberikan dedikasi dan arahan untuk siswa dan siswi bahkan santri dan santriwati di masa kini. Berikan arahan yang tepat bahwa anak-anak harus menggunakan internet dan media sosial dengan bijak agar berguna untuk kehidupan, pembelajaran, bahkan pengalaman hidup. Kita sebagai orang tua dan guru harus melek digital sehingga dapat mengarahkan mereka untuk mencari hal yang baik, menghindari situs yang tidak direkomendasikan, pembelajaran di flatform digital dan mencari informasi yang relevan. Sehingga teknologi dapat digunakan dengan bijak dan sesuai ranah pendidikan untuk anak usia remaja.
Sumber:
Anggraeni, Mela. 2024. Bahasa Gaul Gen Alpha (Tren Kata-kata Hits yang Wajib Kawan Tahu). [Daring] diunggah pada 17 Juli 2024 pukul 08.18. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/07/17/bahasa-gaul-gen-alpha-tren-kata-kata-hits-yang-wajib-kamu-tahu
Dewantara, Tiara Syabanira. 2024. Generasi Boomers, X, Y, Z, & Alpha, Gimana Kepribadiannya. [daring] diunggah pada 10 Desember 2024. https://www.brainacademy.id/blog/karakteristik-generasi-boomers-x-y-z-alpha
Stillman, David dan Jonah Stillman. 2018. Generasi Z Memahami Karakter Generasi Baru yang akan Mengubah Dunia Kerja. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta


