Sejarah dan Kisah

Perang Yamamah (Bag. 2): Kisah Heroik Khalid bin Walid dan Kematian Musailamah

ORDER

Perang Yamamah (Bag. 2): Kisah Heroik Khalid bin Walid dan Kematian Musailamah
Muhammad Ichsan, B.A., M.Pd.

D. Terjadinya pertempuran

Ibnu Katsir mengisahkan tentang kematian Musailamah Al-Kadzdzab—semoga Allah melaknatnya—dalam Perang Yamamah.

Ketika pasukan Muslim dan pasukan Musailamah berhadap-hadapan, Musailamah berkata kepada para pengikutnya, “Hari ini adalah hari pertempuran yang menentukan. Jika kalian kalah, istri-istri kalian akan menjadi tawanan dan diperbudak. Maka berjuanglah dengan gigih untuk mempertahankan kedudukan dan melindungi kehormatan wanita kalian.”

Maka pasukan kaum muslimin terus maju hingga Khalid bin Al-Walid naik ke daerah yang lebih tinggi di Yamamah, lalu membagi pasukannya. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim, maula Abu Hudzaifah dan panji kaum Anshar berada di tangan Tsabit bin Qais bin Syammas. Sementara itu, kabilah-kabilah Arab lainnya membawa panji mereka masing-masing.

Ketika pertempuran semakin sengit, sebagian pasukan Muslim dari kabilah-kabilah Arab mengalami tekanan dan sempat mundur. Melihat hal itu, para sahabat saling menegur satu sama lain. Tsabit bin Qais bin Syammas berkata, “Alangkah buruknya sikap kalian terhadap saudara-saudara kalian.” Tak lama, terdengar seruan dari berbagai penjuru, “Berikan kami jalan keluar, wahai Khalid!”

Dikisahkan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar kemudian membentuk barisan tersendiri. Khalid tidak hanya membangkitkan semangat jihad di kalangan mereka, tetapi juga membangkitkan semangat kesukuan di tengah kaum Muslimin agar dapat diketahui dari mana titik kelemahan jika terjadi kekalahan.

Sementara itu, pasukan Bani Hanifah bertempur dengan keberanian yang belum pernah mereka tunjukkan sebelumnya. Para sahabat saling berwasiat agar tetap teguh di medan perang. Mereka berkata, “Wahai para penghafal surah Al-Baqarah, inilah saatnya kalian menunjukkan keberanian di waktu sahur.”

Dalam pertempuran tersebut, Tsabit bin Qais menggali lubang dan memasukkan kedua kakinya hingga setengah betis. Ia mengenakan kain kafan serta mengoleskan tubuhnya dengan wewangian untuk mengawetkan jenazah, sambil tetap memegang panji kaum Anshar. Ia bertahan di medan pertempuran hingga akhirnya gugur sebagai syahid.

Kaum Muhajirin berkata kepada Salim maula Abu Hudzaifah, “Apakah kau takut kita akan kalah karena dirimu?” Salim pun menjawab, “Jika demikian, maka aku adalah seburuk-buruknya penghafal Al-Qur’an.”

Di tengah pertempuran, Zaid bin Al-Khaththab menyeru, “Wahai kaum Muslimin, gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian! Tebaskan pedang kalian ke arah musuh dan teruslah maju! Demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi hingga Allah memberi kemenangan atau aku menemui-Nya dan mengajukan alasan-alasanku di hadapan-Nya.” Setelah itu, ia gugur sebagai syahid, semoga Allah meridhainya.

Abu Hudzaifah juga berseru, “Wahai para penghafal Al-Qur’an, hiasilah hafalan kalian dengan amal perbuatan!” Kemudian, ia menerjang musuh hingga akhirnya gugur sebagai syahid.

Dalam strategi perangnya, Khalid telah membagi pasukan Muhajirin dan Anshar dari pasukan Muslimin lainnya yang berasal dari berbagai kabilah Arab. Setiap pasukan dikelompokkan berdasarkan kabilah mereka, sehingga jika ada yang kalah, dengan cepat dapat diketahui dari kelompok mana kekalahan itu terjadi.

Para sahabat Nabi ﷺ bertahan dengan penuh kesabaran dalam menghadapi situasi genting ini. Mereka terus menyerang hingga Allah memberikan kemenangan. Pasukan Musailamah pun tercerai-berai dan melarikan diri. Namun, para sahabat tidak berhenti. Mereka terus mengejar dan menebaskan pedang mereka kepada sisa-sisa pasukan musuh.

Akhirnya, pasukan Musailamah terdesak ke dalam sebuah benteng yang dikenal sebagai ‘Kebun Kematian’. Tokoh mereka, Muhkam bin Ath-Thufail—semoga Allah melaknatnya—memberikan isyarat agar mereka berlindung di dalamnya. Bani Hanifah pun segera menutup gerbang kebun itu, tetapi pasukan Muslim mengepungnya.

Al-Barra’ bin Malik Radiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai pasukan Muslimin, lemparkan aku ke dalam kebun musuh!” Awalnya kaum muslimin menolak ide ekstrim tersebut, namun karena Al Barra’ memaksa, akhirnya kaum muslimin pun melakukannya, Maka, pasukan Muslim mengangkatnya dengan tombak di atas perisai dan melemparkannya dengan alat pelontar ke dalam kebun. Al-Barra’ lalu bertempur di dekat gerbang hingga berhasil membukanya. Pasukan Muslim pun menyerbu masuk, baik dengan melompati pagar maupun menjebol pintunya.

Mereka terus memerangi kaum murtad dari penduduk Yamamah hingga akhirnya menemukan Musailamah—semoga Allah melaknatnya. Saat itu, ia berdiri di atas pagar yang retak, tampak kebingungan seperti seekor unta abu-abu yang lelah.

Dalam keadaannya yang semakin terpojok, setan yang selama ini menguasai Musailamah mulai melemah, hingga terlihat buih keluar dari pelipisnya. Lalu Wahsyi bin Harb, seorang mantan budak Jubair bin Muth’im, mendekatinya dan melemparkan tombak kecil. Tombak itu menembus dadanya dan keluar dari sisi tubuhnya yang lain. Lalu Abu Dujanah, seorang sahabat yang bernama Simak bin Khirasyah segera datang dan menebaskan pedangnya hingga Musailamah pun tersungkur tewas. Seorang perempuan dari atas bangunan berteriak, “Pemimpin Wadha’ah telah dibunuh oleh seorang budak berkulit hitam!”

Perang Yamamah merupakan salah satu pertempuran yang dahsyat, karena para pengikut Musailamah sangat militan, mereka juga mengimani kalau seandainya gugur di medan perang, maka dianggap sebagai seseorang yang mati syahid di jalan Allah, karena telah membela Musailamah sang nabi palsu.

Dalam pertempuran ini, tercatat jumlah pasukan Musailamah yang terbunuh di kebun dan di medan perang mencapai 30.000 orang. Sedangkan jumlah pasukan Muslim yang gugur sekitar 1000 orang. Wallahu a’lam.[1]


[1] Disadur dari kitab al Bidayah wa Nihayah jilid 9 halaman 465-466 dan dikisahkan secara bebas

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button